Dari coba-coba, hingga ketagihan dan berakhir dalam jerat hutang, itulah yang dialami Erick Aristino ketika mencoba judi online. Bagaimana kisah hidupnya? Simak pengakuannya berikuti ini.
Saya Erick Aristino, saya bekerja di sebuah institusi perbankan. Pada saat itu saya bekerja di bidang IT. Suatu saat saya terlibat dalam sebuah perjudian di internet. Pada awalnya sih saya cuma coba-coba saja. Browsing melalui Google, kemudian saya menemukan suatu situs, dan saya melihat bahwa ini cara gampang untuk mendapatkan uang.
Saya mulai dari nominal yang kecil, mungkin sekitar 1 sampai 2 dolar saja. Jadi kalau saya menang juga dalam hitungan dolar. Namun ketika saya menang, saya mencoba menaruh uang dalam jumlah yang lebih besar. Saya mulai berani untuk menaruh 10 dolar, dan tentu saja ada menang juga ada kalah juga.
Pada saat itu pun saya melihat bahwa kemungkinan saya menang masih lebih besar daripada saya kalah. Dan saat itu saya mulai berani untuk bertindak lebih jauh lagi. Saya mulai berani menaruh nilai antara 50-100 dolar tiap transaksinya. Setiap hari Erick selalu bermain judi online ini. Kali ini ia lebih percaya diri untuk menaruh uang yang lebih besar lagi.
Ketika itu, saya melihat kalau jam 11, maka closing itu jam 2. Kemungkinan saya menang itu besar. Dan mulai dari jam 9 sampai jam 11 itu, perasaan saya mulai tidak tenang ketika bekerja. Karena sedikit-sedikit, saya melihat internet. Ketika saya mulai bekerja, seketika itu juga pikiran saya berkata, \"Kamu harus lihat internet dulu. Kamu harus cek dulu, kamu menang atau kalah.\"
Saat itu saya menang hampir tiga puluh juta. Saya mentraktir teman-teman saya di suatu restoran yang cukup mahal, dan ketika saya pulang pun saya bercerita kepada istri saya. Saya menceritakan bahwa saya menang tiga puluh juta dan mengajak istri untuk belanja dan makan di luar.
Kemenangan itu tidak membuat Erick berhenti bahkan ia melakukan taruhan yang semakin besar.
Saat di kantor itu, saya memasukkan nilai taruhan sebesar 50 juta rupiah. Ternyata saya kalah. Saya merasa bingung, saya merasa panik, dan tidak tahu apa yang harus saya kerjakan. Jadi saat dikantor pun saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan, saya hanya mondar-mandir sampai teman saya bertanya, \"Rick, kenapa kamu?\" Saya ngga mau menceritakan bahwa saya kalah, \"Ngga.. ngga papa kok..\" Karena saya malu.
Satu sisi, waktu saya menang, saya begitu bangganya. Namun saat saya kalah, saya merasakan betul-betul kosong.
Kekalahan tersebut tidak membuat Erick jera, bahkan dia mengajak istrinya untuk terlibat dalam judi online tersebut. Istrinya diminta untuk memperhatikan fluktuasi indeksnya, karena Erick tidak bisa meninggalkan layar monitornya.
Saya di kamar, saya buka internetnya dan memperhatikan rangenya dari sekian sampai sekian. Lalu saya tanya istri saya, \"Sekarang posisinya sudah berapa?\" Ketika dia memberikan jawaban, kecil atau besar, saya mulai berpikir keras karena itu temponya short time.
Nah... saya menunggu sampai waktu closing tiba, dan ternyata saya kalah. Maka terucaplah kata-kata seperti, \"Bodoh! Goblok!\"
Istrinya hanya bisa berdiam diri menelan semua cercaan Erick akibat kekalahan itu. Tidak hanya itu, kekalahan mengakibatkan ia terbelit hutang jutaan rupiah. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan bersama istrinya ia merencakan sebuah penipuan.
Istri saya membantu saya untuk membuat proyek palsu. Istri saya juga membantu saya menempatkan form-formnya. Dia yang mengetik dan menandatanganinya dengan tanda tangan palsu. Setelah itu saya mendatangi seorang teman dan bercerita bahwa saya menceritakan bahwa saya menang tender, menang suatu proyek dan ingin mengajaknya kerjasama.
Ketika itu saya ditanya, saya butuhnya berapa. Saya bilang sekitar seratus jutaan. Ketika ditanya bayarnya berapa lama, saya jawab sekitar 30 hari. Dia menanyakan keuntungan apa yang ia dapatkan, dan saya janjikan keuntungan 20 persen dari uang yang saya pinjam. Dan dia langsung acc proposal tersebut. Namun saya telah menipu dia. Uang itu tidak digunakan untuk pembelian server, namun uang itu digunakan untuk bermain judi.
Terobsesi dengan judi online, Erick lebih banyak menghabiskan waktunya di depan komputernya dan tidak pernah memperhatikan istrinya. Kekalahan demi kekalahan membuat Erick frustrasi. Uang yang dipinjamnya sudah habis lenyap, dan temannya sudah mulai menagihnya dan mengancamnya.
Emosi saya semakin memuncak ketika saya mendapat telephone dari teman saya ini. Saya hanya di beri waktu satu minggu lagi untuk melunasi hutang saya atau saya akan dilaporkan ke polisi dan masuk penjara.
Saya panik sekali, dan apapun yang saya lakukan, saya cuma ingin marah dan marah saja.
Dalam kondisi panik dan tertekan, Erick menyuruh istrinya pergi dari rumah. Akhirnya istrinya pergi sambil membawa anaknya. Tapi Erick segera berubah pikiran dan mengejar istri serta anaknya.
Ketika saya menyusul dia, saya bilang, \"Maafin aku. Aku ngga tahu kenapa aku bisa mengucapkan hal seperti itu. Tapi aku sayang sama kamu. Ayo naik mobil yuk..kita pulang.\"
Erick menyadari bahwa selama ini ia hanya mengejar kepuasan semata, hingga ia membuat keputusan yang akan mengubah hidupnya.
Saya berlutut dan bilang, \"Tuhan ampuni aku. Aku sudah melakukan hal yang ngga berkenan Tuhan. Aku sudah jauh Tuhan. Kehidupanku sudah tercela Tuhan. Hubunganku dengan istriku semakin jauh Tuhan. Aku ingin mengaku Tuhan. Aku ingin berubah.\"
Ketika saya berdoa, ketika saya memuji Tuhan. Saya merasakan damai sejahtera yang selama ini belum pernah saya dapatkan. Bahkan dengan uang sebesar apapun, itu sulit untuk menggambarkannya. Begitu tenang pikiran saya, begitu damai hati saya. Dan saya tahu pada saat itu, Tuhan sedang menjawab.
Erick pun mendatangi istrinya dan meminta maaf kepadanya.
Sayang, aku minta maaf karena sudah menyakiti hati kamu. Aku mau berubah. Aku tahu kalau apa yang aku lakukan itu salah. Aku mau kita berdoa bersama-sama.
Saat itu baik Erick maupun istrinya menangis dan menyadari kesalahan mereka. Dan inilah doa yang Erick panjatkan bersama istrinya dihadapan Tuhan:
Satu hal Tuhan, aku mau melakukan apapun yang kamu katakan. Istriku Tuhan, anakku Tuhan, hidupku Tuhan, pakai kami menjadi berkat buat orang lain.
Erik dan istrinya akhirnya memutuskan untuk menghadapi kenyataan yang selama ini menghantui hidup mereka. Erick menemui temannya yang memberikan pinjaman uang kepadanya.
Saya turun dari mobil, saya minta istri saya untuk berdoa. Dan saat saya melangkah, memang ada sedikit rasa cemas, tapi takut itu sama sekali tidak ada. Saya tahu kalau Tuhan menyertai saya.
Ditemuinya teman yang memberikan pinjaman itu, dan mengungkapkan bahwa dirinya tidak mampu untuk membayar pinjaman tersebut. Erick meminta kelonggaran dari temannya agar ia bisa membayarnya dengan cara mengcicilnya.
Saya katakan saya bisa mencicil satu juta perbulan. Saat itu saya tidak punya uang, bagaimana bisa membayar satu juta perbulan. Hal yang tidak saya sangka-sangka, dia bilang, \"Ya udah Rick, kalau kamu maunya seperti itu. Terserah kamu saja.\"
Saya tegaskan lagi, \"Tapi kan bapak sebelumnya minta uang itu... sementara saya ngga punya. Bapak ngga papa, kalau saya cicil?\" Dia bilang, \"Ya ngga papa Rick.. Kamu bisanya cuma begitu kan..\"
Saya ngga habis pikir. Sukacita melimpah dalam hati saya. Saya senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Karena saya pikir hal ini adalah hal yang gila, belum pernah saya alami.\"
Setelah peristiwa itu, Erick pun berusaha mencari pekerjaan. Namun kenyataan pahit harus ia hadapi.
Lamaran yang saya masukkan itu ada 12. Dari level manajer sampai level buruh. Sampai saya mau bekerja gratis, tapi tidak ada panggilan. Dan itu membuat saya bingung.
Dalam kebingungannya itu, Erick menyadari bahwa itu adalah proses yang harus dilaluinya. Hingga sebuah kesempatan datang menghampirinya.
Tiba-tiba, suatu hari customer saya itu menghubungi saya dan membutuhkan bantuan saya dalam bidang komputer. Maka saya berangkatlah ke kantornya. Dan sesampainya di kantornya, saya mulai melakukan tugas saya, membetulkan komputernya. Dan tiba-tiba ada pertanyaan, apakah saya bisa menyediakan akses internet bagi kantor tersebut.
Saya jawab, saya ngga tahu bu. Saya cari tahu dulu. Nanti kalau saya sudah buat daftarnya baru saya kesini lagi.
Saya mulai dari ketidak tahuan. Saya tidak tahu perangkat apa yang harus saya beli, saya tidak tahu bagaimana itu membuatnya. Hal itu dapat terjadi karena Tuhan Yesus.
Melalui pinjaman modal dari sang ayah, Erick mendirikan Arpanet. Erick akhirnya diberikan kepercayaan untuk menangani akses internet bagi perusahaan tersebut. Dari usahanya itu, Erick mendapatkan penghasilan yang cukup dan mulai melunasi berbagai hutangnya.
Tapi Tuhan pun menjamah hati teman saya itu. Jadi utang yang tadinya 200 juta, saya cukup bayarkan sebesar 75 juta saja. Itu semua karena kebaikan Tuhan.
Kesuksesan demi kesuksesan diraih oleh Erick, kini Arpanet menjadi perusahaan konsultan bagi 30 perusahaan baik lokal maupun asing.
Saya bersyukur satu hal, bahwa Tuhan Yesus sudah mengampuni dosa saya. Dia sudah membebaskan saya dari permasalahan saya. Dari pergumulan saya. Sehingga saya bisa ada seperti saat ini karena kebaikan Tuhan Yesus saja.
Saya Erick Aristino, saya bekerja di sebuah institusi perbankan. Pada saat itu saya bekerja di bidang IT. Suatu saat saya terlibat dalam sebuah perjudian di internet. Pada awalnya sih saya cuma coba-coba saja. Browsing melalui Google, kemudian saya menemukan suatu situs, dan saya melihat bahwa ini cara gampang untuk mendapatkan uang.
Saya mulai dari nominal yang kecil, mungkin sekitar 1 sampai 2 dolar saja. Jadi kalau saya menang juga dalam hitungan dolar. Namun ketika saya menang, saya mencoba menaruh uang dalam jumlah yang lebih besar. Saya mulai berani untuk menaruh 10 dolar, dan tentu saja ada menang juga ada kalah juga.
Pada saat itu pun saya melihat bahwa kemungkinan saya menang masih lebih besar daripada saya kalah. Dan saat itu saya mulai berani untuk bertindak lebih jauh lagi. Saya mulai berani menaruh nilai antara 50-100 dolar tiap transaksinya. Setiap hari Erick selalu bermain judi online ini. Kali ini ia lebih percaya diri untuk menaruh uang yang lebih besar lagi.
Ketika itu, saya melihat kalau jam 11, maka closing itu jam 2. Kemungkinan saya menang itu besar. Dan mulai dari jam 9 sampai jam 11 itu, perasaan saya mulai tidak tenang ketika bekerja. Karena sedikit-sedikit, saya melihat internet. Ketika saya mulai bekerja, seketika itu juga pikiran saya berkata, \"Kamu harus lihat internet dulu. Kamu harus cek dulu, kamu menang atau kalah.\"
Saat itu saya menang hampir tiga puluh juta. Saya mentraktir teman-teman saya di suatu restoran yang cukup mahal, dan ketika saya pulang pun saya bercerita kepada istri saya. Saya menceritakan bahwa saya menang tiga puluh juta dan mengajak istri untuk belanja dan makan di luar.
Kemenangan itu tidak membuat Erick berhenti bahkan ia melakukan taruhan yang semakin besar.
Saat di kantor itu, saya memasukkan nilai taruhan sebesar 50 juta rupiah. Ternyata saya kalah. Saya merasa bingung, saya merasa panik, dan tidak tahu apa yang harus saya kerjakan. Jadi saat dikantor pun saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan, saya hanya mondar-mandir sampai teman saya bertanya, \"Rick, kenapa kamu?\" Saya ngga mau menceritakan bahwa saya kalah, \"Ngga.. ngga papa kok..\" Karena saya malu.
Satu sisi, waktu saya menang, saya begitu bangganya. Namun saat saya kalah, saya merasakan betul-betul kosong.
Kekalahan tersebut tidak membuat Erick jera, bahkan dia mengajak istrinya untuk terlibat dalam judi online tersebut. Istrinya diminta untuk memperhatikan fluktuasi indeksnya, karena Erick tidak bisa meninggalkan layar monitornya.
Saya di kamar, saya buka internetnya dan memperhatikan rangenya dari sekian sampai sekian. Lalu saya tanya istri saya, \"Sekarang posisinya sudah berapa?\" Ketika dia memberikan jawaban, kecil atau besar, saya mulai berpikir keras karena itu temponya short time.
Nah... saya menunggu sampai waktu closing tiba, dan ternyata saya kalah. Maka terucaplah kata-kata seperti, \"Bodoh! Goblok!\"
Istrinya hanya bisa berdiam diri menelan semua cercaan Erick akibat kekalahan itu. Tidak hanya itu, kekalahan mengakibatkan ia terbelit hutang jutaan rupiah. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan bersama istrinya ia merencakan sebuah penipuan.
Istri saya membantu saya untuk membuat proyek palsu. Istri saya juga membantu saya menempatkan form-formnya. Dia yang mengetik dan menandatanganinya dengan tanda tangan palsu. Setelah itu saya mendatangi seorang teman dan bercerita bahwa saya menceritakan bahwa saya menang tender, menang suatu proyek dan ingin mengajaknya kerjasama.
Ketika itu saya ditanya, saya butuhnya berapa. Saya bilang sekitar seratus jutaan. Ketika ditanya bayarnya berapa lama, saya jawab sekitar 30 hari. Dia menanyakan keuntungan apa yang ia dapatkan, dan saya janjikan keuntungan 20 persen dari uang yang saya pinjam. Dan dia langsung acc proposal tersebut. Namun saya telah menipu dia. Uang itu tidak digunakan untuk pembelian server, namun uang itu digunakan untuk bermain judi.
Terobsesi dengan judi online, Erick lebih banyak menghabiskan waktunya di depan komputernya dan tidak pernah memperhatikan istrinya. Kekalahan demi kekalahan membuat Erick frustrasi. Uang yang dipinjamnya sudah habis lenyap, dan temannya sudah mulai menagihnya dan mengancamnya.
Emosi saya semakin memuncak ketika saya mendapat telephone dari teman saya ini. Saya hanya di beri waktu satu minggu lagi untuk melunasi hutang saya atau saya akan dilaporkan ke polisi dan masuk penjara.
Saya panik sekali, dan apapun yang saya lakukan, saya cuma ingin marah dan marah saja.
Dalam kondisi panik dan tertekan, Erick menyuruh istrinya pergi dari rumah. Akhirnya istrinya pergi sambil membawa anaknya. Tapi Erick segera berubah pikiran dan mengejar istri serta anaknya.
Ketika saya menyusul dia, saya bilang, \"Maafin aku. Aku ngga tahu kenapa aku bisa mengucapkan hal seperti itu. Tapi aku sayang sama kamu. Ayo naik mobil yuk..kita pulang.\"
Erick menyadari bahwa selama ini ia hanya mengejar kepuasan semata, hingga ia membuat keputusan yang akan mengubah hidupnya.
Saya berlutut dan bilang, \"Tuhan ampuni aku. Aku sudah melakukan hal yang ngga berkenan Tuhan. Aku sudah jauh Tuhan. Kehidupanku sudah tercela Tuhan. Hubunganku dengan istriku semakin jauh Tuhan. Aku ingin mengaku Tuhan. Aku ingin berubah.\"
Ketika saya berdoa, ketika saya memuji Tuhan. Saya merasakan damai sejahtera yang selama ini belum pernah saya dapatkan. Bahkan dengan uang sebesar apapun, itu sulit untuk menggambarkannya. Begitu tenang pikiran saya, begitu damai hati saya. Dan saya tahu pada saat itu, Tuhan sedang menjawab.
Erick pun mendatangi istrinya dan meminta maaf kepadanya.
Sayang, aku minta maaf karena sudah menyakiti hati kamu. Aku mau berubah. Aku tahu kalau apa yang aku lakukan itu salah. Aku mau kita berdoa bersama-sama.
Saat itu baik Erick maupun istrinya menangis dan menyadari kesalahan mereka. Dan inilah doa yang Erick panjatkan bersama istrinya dihadapan Tuhan:
Satu hal Tuhan, aku mau melakukan apapun yang kamu katakan. Istriku Tuhan, anakku Tuhan, hidupku Tuhan, pakai kami menjadi berkat buat orang lain.
Erik dan istrinya akhirnya memutuskan untuk menghadapi kenyataan yang selama ini menghantui hidup mereka. Erick menemui temannya yang memberikan pinjaman uang kepadanya.
Saya turun dari mobil, saya minta istri saya untuk berdoa. Dan saat saya melangkah, memang ada sedikit rasa cemas, tapi takut itu sama sekali tidak ada. Saya tahu kalau Tuhan menyertai saya.
Ditemuinya teman yang memberikan pinjaman itu, dan mengungkapkan bahwa dirinya tidak mampu untuk membayar pinjaman tersebut. Erick meminta kelonggaran dari temannya agar ia bisa membayarnya dengan cara mengcicilnya.
Saya katakan saya bisa mencicil satu juta perbulan. Saat itu saya tidak punya uang, bagaimana bisa membayar satu juta perbulan. Hal yang tidak saya sangka-sangka, dia bilang, \"Ya udah Rick, kalau kamu maunya seperti itu. Terserah kamu saja.\"
Saya tegaskan lagi, \"Tapi kan bapak sebelumnya minta uang itu... sementara saya ngga punya. Bapak ngga papa, kalau saya cicil?\" Dia bilang, \"Ya ngga papa Rick.. Kamu bisanya cuma begitu kan..\"
Saya ngga habis pikir. Sukacita melimpah dalam hati saya. Saya senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Karena saya pikir hal ini adalah hal yang gila, belum pernah saya alami.\"
Setelah peristiwa itu, Erick pun berusaha mencari pekerjaan. Namun kenyataan pahit harus ia hadapi.
Lamaran yang saya masukkan itu ada 12. Dari level manajer sampai level buruh. Sampai saya mau bekerja gratis, tapi tidak ada panggilan. Dan itu membuat saya bingung.
Dalam kebingungannya itu, Erick menyadari bahwa itu adalah proses yang harus dilaluinya. Hingga sebuah kesempatan datang menghampirinya.
Tiba-tiba, suatu hari customer saya itu menghubungi saya dan membutuhkan bantuan saya dalam bidang komputer. Maka saya berangkatlah ke kantornya. Dan sesampainya di kantornya, saya mulai melakukan tugas saya, membetulkan komputernya. Dan tiba-tiba ada pertanyaan, apakah saya bisa menyediakan akses internet bagi kantor tersebut.
Saya jawab, saya ngga tahu bu. Saya cari tahu dulu. Nanti kalau saya sudah buat daftarnya baru saya kesini lagi.
Saya mulai dari ketidak tahuan. Saya tidak tahu perangkat apa yang harus saya beli, saya tidak tahu bagaimana itu membuatnya. Hal itu dapat terjadi karena Tuhan Yesus.
Melalui pinjaman modal dari sang ayah, Erick mendirikan Arpanet. Erick akhirnya diberikan kepercayaan untuk menangani akses internet bagi perusahaan tersebut. Dari usahanya itu, Erick mendapatkan penghasilan yang cukup dan mulai melunasi berbagai hutangnya.
Tapi Tuhan pun menjamah hati teman saya itu. Jadi utang yang tadinya 200 juta, saya cukup bayarkan sebesar 75 juta saja. Itu semua karena kebaikan Tuhan.
Kesuksesan demi kesuksesan diraih oleh Erick, kini Arpanet menjadi perusahaan konsultan bagi 30 perusahaan baik lokal maupun asing.
Saya bersyukur satu hal, bahwa Tuhan Yesus sudah mengampuni dosa saya. Dia sudah membebaskan saya dari permasalahan saya. Dari pergumulan saya. Sehingga saya bisa ada seperti saat ini karena kebaikan Tuhan Yesus saja.
Sumber: www.jawaban.com